Senin, 21 November 2016

Suami Yang Di Penjara Dan Istri Di Tiduri Puluhan Lelaki

Sekitar 20 tahun yang lalu, suamiku, sebut saja namanya Jamal, masuk penjara karena ia terlibat dalam kasus pencurian ternak yang dilakukannya bersama 5 orang temannya. Kejadian itu berakibat suamiku dijatuhi hukuman 10 bulan penjara. 

Dari pengakuan mas Jamal saat diprosespengadilan, ia terpaksa ikut dalam aksi pencurian itu karena diancam oleh teman-temannya. Ternyata ia berselingkuh dengan ipar salah seorang temannya, sehingga hal itu dimanfaatkan untuk memaksanya. Mas Jamal yang berprofesi sebagai sopir truk pasir ditugasi untuk membawa truk itu sebagai alat pengangkut ternak curian.

Aku sangat terpukul atas kejadian itu. Aku berniat untuk minta cerai, tapi mas Jamal menolak. Ia bahkan sampai menangis dan bersujud di hadapanku, memohon agar bercerai. Ia minta agar diberi kesempatan untuk bertobat. Aku benar-benar bingung. Tapi aku bersyukur belum punya anak. Andai punya anak, entah bagaimana nasibnya, sementara aku kesulitan menghidupi diriku sendiri, karena tak punya keahlian apa-apa.




Satu bulan sejak suamiku di penjara, aku memutuskan untuk kembali ke kampung, ke rumah orang tuaku. Di sana aku punya kesibukan membantu bapak berjualan di pasar.

Seringkali, ketika malam tiba, aku merindukan sosok suamiku. Ya, aku rindu belaian dan cumbuannya. Sebagai perempuan yang pernah merasakan nikmatnya hubungan suami istri, aku kerap didera hasrat yang menggebu. Kadang, jika tak tahan, aku melakukan masturbasi dengan jari-jariku sampai puas, entah itu di kamar atau di kamar mandi.

Suatu ketika, tetangga sebelah rumah orang tuaku merenovasi rumahnya. Ia mempekerjakan beberapa orang tukang. Karena bersebelahan, aku jadi terganggu akibat kegiatan renovasi itu. Tapi bagaimana lagi?

Kira-kira 2 minggu kemudian, saat aku sedang mandi, salah seorang tukang memanjat atap rumah sebelah. Karena kamar mandi di rumah orang tuaku terbuka sedikit bagian atasnya agar cahaya matahari masuk, otomatis tukang itu (sebut saja namanya Sentot) bisa melihat ke dalam kamar mandi. Mulanya aku tak menyadari hal itu. Aku bisa melihat Sentot sedang berada di atap melalui cermin yang ada di kamar mandi. Aku kaget dan langsung menggeser tubuhku ke dekat pintu agar tak terlihat. Namun entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang membuatku justru ingin dilihat oleh Sentot. Aku kembali mendekat bak mandi dan pura-pura tidak tahu. Kuteruskan mandiku, sementara dari sudut mataku aku bisa melihat kalau Sentot sedang mengintipku. Saat itu aku merasakan nikmat yang aneh ketika tubuh telanjangku dipandangi orang.

Sejak awal renovasi Sentot memang sudah beberapa kali datang ke rumah untuk memeriksa apakah kegiatan renovasinya akan merusak dinding rumahku. Sentot tidak begitu ganteng, tapi tubuhnya tegap dengan kulit legam. Maklumlah tukang bangunan yang biasa bekerja di terik matahari.

Dari kejadian diintip itu, entah kenapa pula aku jadi suka berkhayal. Dalam khayalanku, Sentot menyusup ke celah kamar mandi dan menemaniku mandi. Setelah itu kami bercinta di situ. Gara-gara berkhayal itu, aku kemudian melakukan masturbasi hingga kelelahan dan langsung tertidur.

Hari-hari berikutnya, Sentot makin sering mengintipku. Aku pun tak segan lagi mempetontonkan bagian depan tubuhku saat mandi dengan membelakangi bak mandi saat membilaskan sabun. Aku berharap ia turun dan mencumbuiku. Tapi itu tidak terjadi hingga aku selesai mandi. Ia tetap di tempatnya saat aku mengeringkan tubuh dengan handuk. Ingin rasanya kutatap dia dan kuminta turun. Tapi aku gengsi melakukannya.



Lama-lama aku tak tahan juga. Beberapa hari kemudian, kejadian yang sama terulang lagi seperti yang kuharapkan. Sentotlagi-lagi mengintipku ketika aku mandi. Kesempatan itu tak kusia-siakan. Secara terang-terangan kutatap Sentot. Semula ia cepat-cepat bersembunyi di balik dinding lantai 2 rumah sebelah. Aku kembali meneruskan mandiku . Aku berharap ia paham maksudku dengan tidak marah, apalagi meneriakinya. Betul dugaanku. Ia kembali mengintipku. Sambil mengguyur air ke tubuhku, sudut mataku melirik ke celah dinding di mana Sentot berada. Sengaja kuhadapkan tubuhku ke arahnya agar ia bisa melihat dengan jelas. Usai mandi, sambil mengelapkan handuk, sekali lagi kutatap Sentot dengan senyum tersungging di bibirku. Kali ini ia tidak buru-buru sembunyi. Ia terus saja menatapku dan membalas tersenyum.

Malam harinya, ketika aku sedang berbaring di ranjang hendak tidur, tiba-tiba pintu kamarku berderit. Dalam keremangan cahaya, di depan pintu kamarku yang setengah terbuka kulihat Sentot berdiri menatapku. Ia tampak ragu, antara ingin masuk, atau bersiap kabur andai aku berteriak. Aku kaget, tapi juga senang. Jantungku berdegup kencang. Aku bangun dan duduk di ranjang, balik menatap Sentot. Keberanian Sentot tampaknya mulai timbul manakala menyadari aku hanya diam saja di tempatku. Pelan-pelan ia berjalan mendekatiku setelah menutup pintu. Debaran jantungku makin kencang. Apalagi ketika ia duduk di tepi ranjang sambil menatapku dalam-dalam. Aku hanya diam sambil membalas tatapannya. Tak lama kemudian ia memagut bibirku. Meskipun aku mengharap, tapi aku pura-pura gengsi. Aku tak membalas pagutannya. Aku diam saja, pura-pura takut padanya. Hal itu justru membuat Sentot makinbernafsu. Ia cumbui leher dan dadaku sambil tangannya menggerayangi pahaku.

Sesaat Sentot menghentikan cumbuannya. Ia melepas baju dan celananya, hingga tinggal celana dalam saja. Setelah itu ia kembali mencumbuiku. Aku tak mampu lagi berpura-pura takut ketika birahiku makin menguat. Kucengkeram tubuh Sentot yang tegap dan berotot, sementara ia pelan-pelan melucuti dasterku dari bawah dan mulai menjelajahi bagian sensitif tubuhku.

Malam itu aku dan Sentot bertarung dalam 2 ronde. Ia seperkasa tubuhnya. Berkali-kali aku orgasme dibuatnya, hingga tertidur pulas. Pagi hari aku terbangun dengan tubuh telanjang bulat, sementara Sentot sudah tak ada di sampingku. Usai ronde pertama, Sentot cerita kalau ia masuk rumahku melalui celah di kamar mandi. Akhirnya, dengan cara itulah kemudian ia datang padaku hampir setiap malam untuk mengumbar birahi.

Hubunganku dengan Sentot berlangsung sekitar 2 bulan. Begitu proyek renovasi rumah sebelah selesai, ia pun tak pernah datang lagi. Aku sangat kecewa. Aku berharap, meski renovasi selesai, ia datang mengunjungiku sesekali.

Beberapa minggu kemudian, aku didatangi Ronny (bukan nama sebenarnya). Ia adalah anak dari Ketua RT di kampungku. Menurut desas-desus di kampung, ia telah sukses membuka usaha di Jakarta. Ia datang padaku untuk menawariku pekerjaan di Jakarta, karena mendengar kabar dari orang-orang di pasar kalau aku butuh pekerjaan.

Setelah berkonsultasi dengan bapak dan ibuku, aku menemui mas Jamal di penjara untuk minta ijin. Mas Jamal tidak setuju aku pergi ke Jakarta. Ia memintaku tetap berjualan di pasar saja, sambil menunggu ia keluar penjara. Tapi sakit hatiku padanya masih dalam membekas. Aku pun nekad pergi ke Jakarta bersama Ronny.

Sesampainya di Jakarta, Ronny membawaku ke sebuah rumah yang lumayan bagus, meski tidak begitu besar, di daerah Tanjung Priok. Katanya, rumah itu adalah rumahnya yang baru dibelinya dan belum ditempati. Ia menyuruhku untuk tinggal di situ sementara sampai aku dapat pekerjaan dan bisa menyewa kamar sendiri. Setelah itu, ia pergi meninggalkanku sendiri, sedangkan ia akan kembali bekerja. Ia berikan padaku beberapa lembar uang 10 ribuan untuk peganganku.

Malam harinya, Ronny datang dengan membawa makanan. Katanya, bagian Personalia di kantor sedang keluar kota beberapa hari, sehingga aku belum bisa mulai bekerja. Selesai makan, kami nonton TV berdua di dalam kamar. Saat itulah Ronny mulai merayuku. Akuhanya pasrah saja ketika ia mencumbuiku. Aku yang memang sedang ingin, tak menolak ketika ia melucuti baju dan celanaku, hingga akhirnya kami tenggelam dalam buaian api birahi. Sayangnya, Ronny tidak seperkasa Sentot. Ia sudah selesai sebelum aku mencapai puncak. Tak apalah, itung-itung sebagai ucapan terima kasih padanya yang telah membantuku mencarikan pekerjaan, begitu pikirku waktu itu.





Hari berganti hari, pekerjaan yang dijanjikan Ronny tak kunjung kudapat. Ia selalu beralasan macam-macam dan memintaku untuk bersabar menunggu. Tapi soal jatah di ranjang, ia tak pernah absen meminta.

Akhirnya aku tak tahan lagi. Ketika ia pergi, diam-diam kuikuti. Dari situ aku baru tahu kalau ternyata ia seorang tukang parkir di sebuah mall. Aku berusaha memendam amarahku. Aku baru sadar kalau ternyata selama ini ia memanfaatkan tubuhku. Dengan perasaan marah aku kembali ke rumah. Kuberesi barang-barangku dan kutinggalkan rumah itu. Di pos satpam, kutanyakan siapa sebenarnya pemilik rumah itu. Ternyata rumah itu milik orang yang akan dikontrakkan. Ronny hanya ditugasi untuk sesekali memeriksanya, karena kebetulan Ronny pernah bekerja sebagai tukang kebun pada pemilik rumah itu. 

Aku yang baru sekali itu ke Jakarta sempat kebingungan mencari terminal bus. Ya, aku bertekad untuk kembali ke kampung halaman saja daripada luntang-lantung di ibukota tanpa tujuan yang jelas. Setelah bertanya sana-sini, aku sampai juga di terminal bus. Tapi uang sakuku sudah menipis. Untuk ada sopir Hampir tengah malam aku sampai di kotaku. Pak Handoko menawariku untuk mengantar sampai rumahku. Tapi ia harus membawa dulu busnya ke garasi. Dari garasi, pak Handoko memboncengku dengan motornya. Dengan alasan sudah larut malam, sementara jarak ke kampungku cukup jauh, pak Handoko mengajakku menginap di sebuah hotel. Aku hanya menurut saja. Di hotel itu, pakHandoko sempat meyetubuhi hingga 2 kali. Paginya baru ia mengantarku sampai ke rumah.

Bapak dan ibuku sangat geram mendengar ceritaku yang ditipu mentah-mentah oleh Ronny. Bapak bahkan sempat emosi dan hendak mendatangi orang tua Ronny. Untung amarahnya reda setelah ditenangkan oleh ibuku.

Aku kembali menjalani hari-hariku sebagai pedagang di pasar. Sesekali aku ikut bapak kulakan di kota. Suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari kulakan, aku dan bapak bertemu dengan pak Temon (bukan nama sebenarnya). Ia adalah sahabat baik ayah waktu muda dulu. Dari obrolan singkat mereka, pak Temon mengajakku untuk membuka lapak di kota, karena ia juga punya lapak di tempat sama.

Karena kenal baik, akhirnya bapak menyetujui ajakan pak Temon. Bapak memberiku modal untuk berjualan di kota. Untuk tempat tinggal, pak Temon menyediakan satu kamar di rumahnya untuk kutempati bersama-sama dengan anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMA.
Tinggal di rumah pak Temon ternyata menyenangkan. Pak Temon, bu Temon maupun anak mereka, sebut saja namanya Lastri, memperlakukanku dengan sangat baik. Mereka sudah menganggapku sebagai anggota keluarga.

Begitu pun dengan daganganku. Dalam waktu singkat aku bisa menanggung banyak keuntungan, karena lokasi lapakku sangat strategis. Mas Jamal sangat senang melihat kemajuan yang kuperoleh. Ia sempat menangis terharu saat aku menjenguknya dan tak henti-hentinya minta maaf padaku atas kesalahannya dulu.

Selama berdagang, aku berkenalan dengan seorang anggota tramtib (Satpol PP) yang kerap bertugas di pasar. Namanya Cahyo (bukan nama sebenarnya). Ia lumayan tampan dan enak diajak ngobrol. Sayang usianya lebih muda dariku. Mungkin sekitar 5 atau 6 tahun lah. Tapi dari caranya memandangku ketika kami bertemu di pasar, aku merasa ia menaruh hati padaku. Diam-diam aku merindukan kehadirannya setiap kali aku berada di pasar. Jika Cahyo tak datang, aku gelisah.

Suatu sore, saat aku sedang berbenah memberesi lapak yang akan kututup, Cahyo datang. Ia yang sudah mengenakan pakaian dinas menawari untuk mengantarku pulang. Tentu saja aku sangat senang dengan ajakannya, walaupun semula aku berpura-pura menolak dengan halus. Dengan berboncengan naik motornya, kami pun meninggalkan pasar. Tak lupa aku berpamitan lebih dulu pada pak Temon dan bu Temon. Hanya saja aku tidak mengatakan kalau aku diantar Cahyo. Aku malu mereka akan berpikiran macam-macam, karena mereka tahu aku sudah bersuami. Kukatakan kalau aku akan pergi dulu sebentar untuk membeli sesuatu.

Lagi-lagi aku tak kuasa menolak ketika dalam perjalanan pulang Cahyo mentraktirku untuk makan. Selesai makan, kami tak langsung pulang, tapi putar-putar dulu di kota. Saat berboncengan itu aku merasa nyaman berdekatan dengan Cahyo. Aku sempat kaget ketika tiba-tiba Cahyo membawa motornya masuk ke sebuah hotel melati. Tapi aku paham. Aku pura-pura kaget dengan mengatakan, “Lho, ngapain kesini, Yo?”. Dengan santai Cahyo menjawab, “Aku ingin ngobrol-ngobrol santai sama kamu, mbak. Kalau di pasar tidak enak dilihat orang”.bus yang baik hati, sebut saja namanya Handoko mau memberiku tumpangan ke kota asalku, karena ia juga berasal dari kota yang sama denganku.


Aku diam saja saat Cahyo masuk ke ruang resepsionis. Begitu juga ketika ia menggamitku masuk ke kamar begitu ia mendapat kunci dari resepsionis. Di kamar, kami ngobrol di atas ranjang. Aku tak kuasa menahan denyutan birahiku, ketika tiba-tiba Cahyo mengulum bibirku. Aku pun balas melumat bibirnya. Tanpa terasa, kami sudah sama-sama telanjang bulat dan merengkuh kenikmatan dengandesah nafas memburu. Seperti halnya Sentot, Cahyo pun mampu membuatku orgasme berkali-kali. Aku benar-benar dibuat puas olehnya.

Sejak saat itu, aku dan Cahyo punya agenda rutin berdua. Kadang di hotel, kadang di tempat wisata di antara rimbun pepohonan. Cahyo telah membuatku tergila-gila padanya. Kapanpun ia ingin, aku tak pernah menampik. Bahkan ketika ia mengajakku untuk melakukan di toilet pasar.

Suatu ketika, Cahyo lama tak mengunjungiku di pasar. Sebelumnya ia sudah mengatakan kalau harus mengikuti pelatihan bela diri di kota lain. Namun, setelah lewat masa pelatihan, Cahyo tak kunjung datang. Rasa rinduku yang sudah memuncak memaksaku nekad mendatangi tempat kos Cahyo begitu palak kututup.

Dengan naik angkot, aku berangkat menuju tempat tinggal Cahyo. Aku sangat kaget waktu hendak menyeberang jalan di dekat kos Cahyo, aku melihatnya membonceng seorang perempuan berseragam sekolah. Perempuan itu tak lain adalah Lastri, anak gadis pak Temon. Aku lebih kaget lagi manakala melihat Cahyo menggandeng Lastri masuk ke kamarnya.

Aku tak tahu ada hubungan apa antara Cahyo dengan Lastri, tapi aku bisa langsung menduga apa yang mereka lakukan dalam kamar. Seketika mataku berkunang-kunang. Dengan perasaan hancur kutinggalkan tempat itu dan kembali ke rumah pak Temon.

Hingga hampir Isya, Lastri belum pulang. Ketika kutanyakan pada bu Temon tentang Lastri, katanya anak semata wayangnya tadi pagi pamit mau ikut les usai pelajaran sekolah. Jawaban yang sama juga kuperoleh dari Lastri sendiri saat kutanya kenapa pulangnya terlambat. Artinya Lastri membohongi orang tuanya. Juga aku.

Keesokan sorenya, ketika Cahyo datang ke lapakku untuk mengajakku makan bersama kutolak mentah-mentah. Ia tampak heran melihat perubahan sikapku. Ia terus memaksaku menjawab keheranannya, tapi aku tak peduli. Rasa cinta yang sempat tumbuh di hatiku telah berubah jadi benci padanya. Aku bahkan mengusirnya agar tak datang lagi ke lapakku. Sejak itu ia benar-benar tak pernah datang lagi.

Aku yang sudah didera rasa kecewa memutuskan untuk menjual lapakku. Aku ingin kembali ke kampung lagi, dan berniat mengembangkan usaha bapak dengan tabungan yang kusimpan dari hasil berjualan. 

Kejadian itu membuatku tersadar. Aku memang pernah dikhianati suamiku, tapi perbuatanku selama ini ternyata jauh lebih buruk darinya. Aku telah berzina dengan banyak laki-laki di saat suami mendekam di penjara. Kubiarkan tubuhku dijamah oleh laki-laki yang tak seharusnya berhak atas diriku. Aku menangis memikirkan itu. Begitu besar dosaku selama ini. Aku makin merasa berdosa saat menjenguk mas Jamal di penjara. Ia tampak kurus. Aku jadi merasa iba padanya.

Akhirnya aku memantapkan diri untuk hanya mengabdi pada mas Jamal. Aku tunggu ia sampai masa hukumannya berakhir.

Ketika saat kebebasan mas Jamal tiba, ia langsung memelukku dan menangis. Ia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padaku yang telah dengan setia menunggunya. Ia berjanji akan menjadi suami yang baik padaku. Kubalas pelukan mas Jamal kuat-kuat. Aku pun tak kuasa menitikkan air mata. Dalam hati aku berjanji tetap setia padanya, sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosaku selama ia dipenjara.

Aku mengajak mas Jamal untuk pindah ke kota lain dan mulai menempuh kehidupan yang baru. Alasan utamaku hanya satu. Aku tak ingin orang-orang yang dulu pernah menjamahku datang dan membongkar rahasiaku. Aku tak ingin rumah tanggaku hancur. Untungnya Mas Jamal setuju. 

Saat ini Aku dan mas Jamal telah memiliki sebuah ruko (rumah toko) hasil jerih payah kami berdua. Meskipun tak dikaruniai anak, tapi aku dan mas Jamal cukup bahagia dengan kehadiran 2 anak angkat kami. Tamat..

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda